“Sejak kapan orang malu untuk menuntut ilmu?
Mengaji itu penting, le. Itu untuk bekal kamu di akhirat. Bukan untuk Ibu.” Ibu
masih terus memaksa Hanif.
“Jarak
rumahnya Kyai Alim jauh, Bu. Pulang sekolah Hanif saja sudah sore. Sudah
capek-capeknya, Bu. Lha kok malah disuruh jalan kaki sejauh itu untuk mengaji
ke rumahnya Kyai Alim… Sampai maghrib pula. Kapan waktu Hanif untuk istirahat?”
Ibu terdiam saat mendengar penjelasan dari putra sulungnya itu.
Hanif bersyukur
dalam hati karena akhirnya Ibu kalah dalam adu mulut ini.
Namun tiba-tiba,
Hanif merasakan ada sesuatu yang salah dalam ucapannya. Ia pun menoleh. Menatap
wajah Ibu yang sedang melamun. Hanif melihat genangan air di pelupuk mata Ibu.
Oh, celaka! Hanif pasti salah bicara.
“Bu..?”
“Ibu akan
melihat uang tabungan peninggalan Bapak. Ibu usahakan untuk membelikan kamu
sepeda pancal, biar nggak capek-capek lagi ke sekolah dan mengaji ke rumahnya
Kyai Alim.” Lantas Ibu berlalu ke kamar dan menutup pintunya. Bahu Hanif melemas.
Ia sangat merasa bersalah.
Bukan ini yang ia inginkan. Hanif hanya merasa malu
untuk mengaji di rumah Kyai Alim. Ia malu diledeki oleh teman-teman sekolahnya,
karena mengaji dengan kumpulan anak-anak kecil di kampung. Satu tahun lagi
usianya akan menginjak 12 tahun. Sudah seremaja ini, tapi tetap saja dituntut
belajar mengaji seperti halnya anak kecil. Walaupun Hanif sudah sangat fasih
dalam membaca Al-Qur’an, ia pun menguasai banyak ilmu agama. Hanif merasa ia
tidak memiliki kesempatan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya seperti
yang dilakukan anak muda jaman sekarang. Tapi apalah yang bisa ia lakukan demi
Ibu?
Hingga
akhirnya, Hanif bangkit dari tempat duduknya seraya meraih tas ransel hitam
yang berisikan buku dan kitab untuk mengaji.
◊◊◊
Jalanan
masih rata dengan tanah yang bercampur air hujan. Sandal jepit Hanif terasa
semakin berat karena tanah yang menempel. Sembari mengangkat sedikit sarungnya,
ia berjalan menyusuri desa di lereng gunung.
Sampai di
perempatan jalan menuju gang rumah Kyai Alim, Hanif menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba saja pikiran jahat datang untuk menyuruhnya kabur ke tempat lain. Dan
pulang ke rumah seusai maghrib. Jadi agar Ibu mengira jika ia benar-benar telah
mengaji, padahal sebenarnya tidak. Hanif menyetujui pikiran itu. Padahal kurang
beberapa langkah lagi adalah gang rumah Kyai Alim. Akhirnya Hanif berbalik. Dan
betapa terkejutnya ia saat melihat jauh di seberang jalan. Betapa terpana
hatinya bagai melihat sebuah bunga merekah di tengah rerumputan. Hanif diam terpaku.
Dilihatnya seorang gadis berdiri di seberang jalan sambil membawa sebuah payung
berwarna pelangi. Gadis yang sangat cantik yang pernah dilihat oleh Hanif.
Rambutnya tergurai menutup bahu sebelah kanan. Merasa diperhatikan, gadis itu
pun menoleh melihat Hanif. Ia tersenyum.
Dan entah
apa yang membuat Hanif kembali mendapatkan semangatnya, ia berbalik kembali dan
segera berlari menuju rumah Kyai Alim. Mengaji.
◊◊◊
Kini
mengaji sudah seperti kegiatan rutin yang harus Hanif lakukan. Ia tidak lagi malas
dengan berbagai alasan. Bahkan Hanif berjanji pada Ibunya jika ia akan tetap
menjadi murid setia Kyai Alim sampai kapan pun. Tentu sangat membuat Ibu bangga
dengan perubahan drastis itu. Kyai Alim pun sering bercerita kepada Ibu
mengenai perkembangan Hanif yang mulai meningkat. Kini Hanif tidak lagi merasa
malu untuk mengaji dengan anak-anak kecil di kampung. Ia juga tidak lagi merasa
iri dengan teman-teman di sekolahnya. Hanif telah menemukan dunianya sendiri.
Dunia bersama seseorang yang merekah dihatinya.
Setiap
kali Hanif berangkat mengaji, ia selalu bertemu dengan gadis di seberang jalan
itu. Gadis yang selalu membawa payung pelangi. Jika gadis itu belum ada di
tempatnya, maka Hanif akan menunggu sampai ia datang dan saling melempar
senyuman.
Hingga
suatu ketika, hujan deras mengguyur desa. Tepat saat ia akan kembali pulang,
setelah mendapat berita jika Kyai Alim tidak bisa mengajar. Hanif berlari
tergopoh-gopoh karena pakaiannya yang basah. Akhirnya, ia memutuskan untuk
berteduh pada sebuah pohon besar di depan gang. Ingin sekali ia kembali ke
rumah Kyai Alim untuk menumpang berteduh. Namun suara petir disana sini
mengecilkan nyalinya. Hanif masih berdiri seraya menggosok kedua telapak
tangannya. Butiran air hujan yang menembus dedaunan, menetes pelan membasahi
baju dan tas ranselnya. Hanif melepas peci putih yang ia gunakan dan langsung
menyimpannya di dalam tas. Peci itu adalah satu-satunya peninggalan almarhum
ayahnya.
"Cepat sekali pulangnya?”
Hanif
terhenyak. Perlahan ia mengangkat wajah dan…
Senyum
itu terlihat sangat jelas di hadapannya. Tetesan air hujan yang menembus
dedaunan tak lagi membasahi baju dan tas Hanif. Ada payung pelangi yang
melindunginya.
“Kamu
boleh meminjam payung ini. Asalkan kamu mengantarkan aku pulang. Maaf, aku
hanya membawa satu payung.” Ucap gadis itu.
“Di
seberang jalan kan?” Hanif memastikan. Dadanya berdegub sangat kencang.
“Iya.
Tidak jauh. Tenang saja…”
Hanif pun
menyetujui. Selain memang ia membutuhkan payung itu, ia juga tidak mungkin
membiarkan seorang gadis sendirian setelah menawarkan bantuan padanya. Keduanya
berjalan beriringan. Hanif sengaja menjaga jarak sedikit jauh hingga sebagian
tubuhnya basah.
“Aku
sering melihatmu di seberang jalan dengan membawa payung ini. Untuk siapa?”
Hanif membuka perbincangan.
“Untuk
kakekku. Aku menunggunya pulang kerja setelah mengurus ternak dan kebun orang
di desa seberang. Maklum, sudah mulai pikun dan lupa jalan pulang.” Gadis itu
menjawab dengan sangat tenang.
“Baik
sekali.” Puji Hanif. Jantungnya masih berdegub kencang. “Siapa namamu? Aku
tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
“Ambar.
Aku datang untuk berlibur. Namamu?”
“Hanif.”
Hanif
kembali kehilangan kata-kata dan bahan pembicaraan. Hingga ia sampai di rumah
Ambar pun, Hanif tidak mengucapkan apapun selain terimakasih dan permintaan
maaf. Begitu pula Ambar.
Hanya beberapa kalimat yang ia ucapkan saat sampai di
depan rumahnya, “Aku sering melihatmu berangkat untuk mengaji. Aku kagum dengan
semangatmu. Jarang sekali anak muda jaman sekarang yang rajin untuk mendalami
ilmu agama sepertimu.” Ambar tersenyum manis.
Kemudian
Hanif pulang dengan sangat gembira. Ia menembus hujan dengan payung pelangi
itu. Payung milik seseorang yang menjadikannya semangat untuk mengaji. Dan
tidak lagi beradu mulut dengan Ibu.
Keesokan
harinya, sepulang sekolah Hanif langsung mengunjungi rumah Ambar untuk
mengembalikan payung pelangi itu. Namun Ambar justru tak ada di rumah.
Keluarganya berkata jika Ambar telah kembali ke kota sejak tadi pagi. Hanif
sangat kecewa. Kenapa Ambar tidak mengatakan sesuatu kemarin? Bahkan mereka pun
baru berkenalan kemarin. Hanif pun kembali menjalankan hari-harinya. Ia mulai
malas karena tak ada lagi senyuman Ambar di seberang jalan sebagai
penyemangatnya.
Namun kini, Hanif mulai bertekad. Ibu benar. Mengaji adalah
bekal yang paling penting. Terlebih lagi, Ibu telah menghadiahkannya sepeda
pancal bekas untuk pergi ke rumah Kyai Alim. Hanif tidak ingin tampak terlihat baik di hadapan Ambar. Ia akan membuktikan jika ucapan Ambar benar.
Dan dengan
tetap membawa payung itu. Ia akan tetap menunggu…
apik :)
BalasHapusbagus :)
BalasHapusiya :)
BalasHapusmakasih :D