quotes

Be patient. Be hopeful. No matter how dark the night is, daybreak will follow..

( Sabar. Jadilah harapan. Tidak peduli seberapa gelap malam adalah, fajar akan mengikuti.. )

- Mufti Ismail Menk

Minggu, 08 Februari 2015

Payung darimu...



 “Sejak kapan orang malu untuk menuntut ilmu? Mengaji itu penting, le. Itu untuk bekal kamu di akhirat. Bukan untuk Ibu.” Ibu masih terus memaksa Hanif.


“Jarak rumahnya Kyai Alim jauh, Bu. Pulang sekolah Hanif saja sudah sore. Sudah capek-capeknya, Bu. Lha kok malah disuruh jalan kaki sejauh itu untuk mengaji ke rumahnya Kyai Alim… Sampai maghrib pula. Kapan waktu Hanif untuk istirahat?” Ibu terdiam saat mendengar penjelasan dari putra sulungnya itu.
Hanif bersyukur dalam hati karena akhirnya Ibu kalah dalam adu mulut ini.
Namun tiba-tiba, Hanif merasakan ada sesuatu yang salah dalam ucapannya. Ia pun menoleh. Menatap wajah Ibu yang sedang melamun. Hanif melihat genangan air di pelupuk mata Ibu. Oh, celaka! Hanif pasti salah bicara.


“Bu..?”


“Ibu akan melihat uang tabungan peninggalan Bapak. Ibu usahakan untuk membelikan kamu sepeda pancal, biar nggak capek-capek lagi ke sekolah dan mengaji ke rumahnya Kyai Alim.” Lantas Ibu berlalu ke kamar dan menutup pintunya. Bahu Hanif melemas. Ia sangat merasa bersalah.

Bukan ini yang ia inginkan. Hanif hanya merasa malu untuk mengaji di rumah Kyai Alim. Ia malu diledeki oleh teman-teman sekolahnya, karena mengaji dengan kumpulan anak-anak kecil di kampung. Satu tahun lagi usianya akan menginjak 12 tahun. Sudah seremaja ini, tapi tetap saja dituntut belajar mengaji seperti halnya anak kecil. Walaupun Hanif sudah sangat fasih dalam membaca Al-Qur’an, ia pun menguasai banyak ilmu agama. Hanif merasa ia tidak memiliki kesempatan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya seperti yang dilakukan anak muda jaman sekarang. Tapi apalah yang bisa ia lakukan demi Ibu?


Hingga akhirnya, Hanif bangkit dari tempat duduknya seraya meraih tas ransel hitam yang berisikan buku dan kitab untuk mengaji.


                                                          ◊◊◊


Jalanan masih rata dengan tanah yang bercampur air hujan. Sandal jepit Hanif terasa semakin berat karena tanah yang menempel. Sembari mengangkat sedikit sarungnya, ia berjalan menyusuri desa di lereng gunung.


Sampai di perempatan jalan menuju gang rumah Kyai Alim, Hanif menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja pikiran jahat datang untuk menyuruhnya kabur ke tempat lain. Dan pulang ke rumah seusai maghrib. Jadi agar Ibu mengira jika ia benar-benar telah mengaji, padahal sebenarnya tidak. Hanif menyetujui pikiran itu. Padahal kurang beberapa langkah lagi adalah gang rumah Kyai Alim. Akhirnya Hanif berbalik. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat jauh di seberang jalan. Betapa terpana hatinya bagai melihat sebuah bunga merekah di tengah rerumputan. Hanif diam terpaku. Dilihatnya seorang gadis berdiri di seberang jalan sambil membawa sebuah payung berwarna pelangi. Gadis yang sangat cantik yang pernah dilihat oleh Hanif. Rambutnya tergurai menutup bahu sebelah kanan. Merasa diperhatikan, gadis itu pun menoleh melihat Hanif. Ia tersenyum.


Dan entah apa yang membuat Hanif kembali mendapatkan semangatnya, ia berbalik kembali dan segera berlari menuju rumah Kyai Alim. Mengaji.

                                                         
                                                         ◊◊◊

Kini mengaji sudah seperti kegiatan rutin yang harus Hanif lakukan. Ia tidak lagi malas dengan berbagai alasan. Bahkan Hanif berjanji pada Ibunya jika ia akan tetap menjadi murid setia Kyai Alim sampai kapan pun. Tentu sangat membuat Ibu bangga dengan perubahan drastis itu. Kyai Alim pun sering bercerita kepada Ibu mengenai perkembangan Hanif yang mulai meningkat. Kini Hanif tidak lagi merasa malu untuk mengaji dengan anak-anak kecil di kampung. Ia juga tidak lagi merasa iri dengan teman-teman di sekolahnya. Hanif telah menemukan dunianya sendiri. Dunia bersama seseorang yang merekah dihatinya.


Setiap kali Hanif berangkat mengaji, ia selalu bertemu dengan gadis di seberang jalan itu. Gadis yang selalu membawa payung pelangi. Jika gadis itu belum ada di tempatnya, maka Hanif akan menunggu sampai ia datang dan saling melempar senyuman.

Hingga suatu ketika, hujan deras mengguyur desa. Tepat saat ia akan kembali pulang, setelah mendapat berita jika Kyai Alim tidak bisa mengajar. Hanif berlari tergopoh-gopoh karena pakaiannya yang basah. Akhirnya, ia memutuskan untuk berteduh pada sebuah pohon besar di depan gang. Ingin sekali ia kembali ke rumah Kyai Alim untuk menumpang berteduh. Namun suara petir disana sini mengecilkan nyalinya. Hanif masih berdiri seraya menggosok kedua telapak tangannya. Butiran air hujan yang menembus dedaunan, menetes pelan membasahi baju dan tas ranselnya. Hanif melepas peci putih yang ia gunakan dan langsung menyimpannya di dalam tas. Peci itu adalah satu-satunya peninggalan almarhum ayahnya.


"Cepat sekali pulangnya?”


Hanif terhenyak. Perlahan ia mengangkat wajah dan…

Senyum itu terlihat sangat jelas di hadapannya. Tetesan air hujan yang menembus dedaunan tak lagi membasahi baju dan tas Hanif. Ada payung pelangi yang melindunginya.


“Kamu boleh meminjam payung ini. Asalkan kamu mengantarkan aku pulang. Maaf, aku hanya membawa satu payung.” Ucap gadis itu.


“Di seberang jalan kan?” Hanif memastikan. Dadanya berdegub sangat kencang.


“Iya. Tidak jauh. Tenang saja…”


Hanif pun menyetujui. Selain memang ia membutuhkan payung itu, ia juga tidak mungkin membiarkan seorang gadis sendirian setelah menawarkan bantuan padanya. Keduanya berjalan beriringan. Hanif sengaja menjaga jarak sedikit jauh hingga sebagian tubuhnya basah.


“Aku sering melihatmu di seberang jalan dengan membawa payung ini. Untuk siapa?” Hanif membuka perbincangan.


“Untuk kakekku. Aku menunggunya pulang kerja setelah mengurus ternak dan kebun orang di desa seberang. Maklum, sudah mulai pikun dan lupa jalan pulang.” Gadis itu menjawab dengan sangat tenang.


“Baik sekali.” Puji Hanif. Jantungnya masih berdegub kencang. “Siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
 

“Ambar. Aku datang untuk berlibur. Namamu?”


“Hanif.”


Hanif kembali kehilangan kata-kata dan bahan pembicaraan. Hingga ia sampai di rumah Ambar pun, Hanif tidak mengucapkan apapun selain terimakasih dan permintaan maaf. Begitu pula Ambar.

Hanya beberapa kalimat yang ia ucapkan saat sampai di depan rumahnya, “Aku sering melihatmu berangkat untuk mengaji. Aku kagum dengan semangatmu. Jarang sekali anak muda jaman sekarang yang rajin untuk mendalami ilmu agama sepertimu.” Ambar tersenyum manis.


Kemudian Hanif pulang dengan sangat gembira. Ia menembus hujan dengan payung pelangi itu. Payung milik seseorang yang menjadikannya semangat untuk mengaji. Dan tidak lagi beradu mulut dengan Ibu.


Keesokan harinya, sepulang sekolah Hanif langsung mengunjungi rumah Ambar untuk mengembalikan payung pelangi itu. Namun Ambar justru tak ada di rumah. Keluarganya berkata jika Ambar telah kembali ke kota sejak tadi pagi. Hanif sangat kecewa. Kenapa Ambar tidak mengatakan sesuatu kemarin? Bahkan mereka pun baru berkenalan kemarin. Hanif pun kembali menjalankan hari-harinya. Ia mulai malas karena tak ada lagi senyuman Ambar di seberang jalan sebagai penyemangatnya.

Namun kini, Hanif mulai bertekad. Ibu benar. Mengaji adalah bekal yang paling penting. Terlebih lagi, Ibu telah menghadiahkannya sepeda pancal bekas untuk pergi ke rumah Kyai Alim. Hanif tidak ingin tampak terlihat baik di hadapan Ambar. Ia akan membuktikan jika ucapan Ambar benar. 


Dan dengan tetap membawa payung itu. Ia akan tetap menunggu…

3 komentar: