Masjid Jami’ Cordoba merupakan salah satu unsur peradaban Cordoba
yang sangat penting dan masih tetap bertahan hingga sekarang. Masjid
tersebut dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita, yang diambil dari kata
masjid.
Masjid ini adalah masjid yang paling masyhur di Andalusia,
bahkan di seluruh Eropa. Namun, sekarang masjid ini
dijadikan sebagai
katedral. Masjid ini mulai dibangun Abdurrahman ad-Dakhil tahun 170 H /
786 M., kemudian diteruskan oleh putranya Hisyam dan khalifah-khalifah
setelahnya. Setiap khalifah memberikan sesuatu yang baru kepada masjid
tersebut, dengan memperluas dan memperindahnya agar menjadi masjid yang
paling indah di Cordoba dan masjid terbesar di dunia saat itu.
Penulis kitab
ar-Raudh al-Mi’thar mengatakan, “Di Kota Cordoba
ini teradapat sebuah masjid yang sangat terkenal dan sering
disebut-sebut. Masjid itu adalah masjid terbesar di dunia, luas, dengan
teknik pembangunan yang modern, bentuk yang indah, dan bangunan yang
sempurna.”
Para khalifah memberikan perhatian yang besar terhadap Masjid Cordoba
ini. Mereka memberikan tambahan demi tambahan, penyempurnaan demi
penyempurnaan hingga mencapai tingkat yang sempurna, bangunan yang
membuat kagum, dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Tidak ada masjid kaum muslimin yang menyerupai masjid ini dari segi
keindahan, luas, dan besarnya. Separuh masjid dibuat beratap dan
separuhnya lagi tidak. Jumlah lengkungan bangunan yang beratap ada empat
belas. Ada 1000 tiang, baik tiang yang besar ataupun kecil. Ada 113
sumber penerangan, penerangan yang terbesar terdapat 1000 lampu dan yang
paling kecil memuat 12 lampu.
Seluruh kayunya berasal dari pohon cemara Thurthusy. Besar pasaknya
satu jengkal dan panjangnya 30 jengkal, antara satu pasak dengan pasak
yang lain dipasang pasak yang besar. Di atapnya terdapat bermacam-macam
seni ukir yang antara satu dengan yang lain tidak sama. Susunannya
dibuat sebaik mungkin dan warna-warnanya terdiri dari warna merah,
putih, biru, hijau, dan hitam celak. Arsitektur dan warna-warni itu
menyenangkan mata dan menarik hati. Luas tiap-tiap penyusun atap adalah
tiga puluh tiga jengkal. Jarak antara satu tiang dengan tiang yang lain
lima belas hasta, dan masing-masing tiang bagian atas dan bawahnya
dibuat dari batu marmer pualam.

Masjid ini mempunyai mihrab yang sangat indah, dihiasi ukiran-ukiran
dengan teknik yang sempurna, dan terdapat mozaik yang dilapisi emas. Hal
ini sampai membuat pemimpin Konstantinopel mengirim utusan kepada
Abdurrahman an-Nashir Lidinillah. Di dua arah mihrab ada empat tiang,
dua tiang berwarna hijau dan dua lagi berwarna violet kehijau-hijauan.
Di bagian ujung dipasangi lapisan marmer yang dihias dengan emas, lazuardi, dan warna-warna lainnya. Di
sebelah mihrab terdapat mimbar yang keindahannya tidak ada yang
menandinginya; kayunya adalah kayu ebony, box, dan kayu untuk wewangian.
Konon, mihrab tersebut dibuat selama tujuh tahun dan dikerjakan oleh
tujuh orang ahli, selain tukang pembantu.
Di sebelah Utara mihrab terdapat gudang yang di dalamnya terdapat
beberapa wadah yang terbuat dari emas, perak, dan besi. Semuanya untuk
tempat nyala lampu pada setiap malam ke-27 bulan Ramadhan. Di gudang ini
juga teradapat mushaf besar yang hanya dapat diangkat oleh dua orang,
dan juga terdapat mushaf Utsman bin Affan
radhiallahu ‘anhu yang
beliau tulis dengan tangannya sendiri. Mushaf ini dikeluarkan setiap
pagi oleh para penjaga masjid. Mushaf ditempatkan di atas kursi dan imam
membaca separuh hizb darinya, kemudian dikembalikan ke tempatnya
semula.
Di sebelah kanan mihrab dan mimbar adalah pintu yang menuju ke
istana, terletak di antara dua dinding masjid yang berupa lorong yang
beratap. Di lorong ini ada delapan pintu; empat pintu dari arah istana
tertutup dan empat pintu dari arah masjid juga tertutup. Sedangkan
masjid ini memiliki 20 pintu yang dilapisi dengan tembaga. Setiap pintu
memiliki dua gagang pintu yang indah. Daun pintu dihiasai dengan
beberapa butiran yang terbuat dari bata merah yang ditumbuk dengan
berbagai macam hiasan yang lain.
Dalam setiap bagian dari empat arah lingkaran menara terdapat dua
buah lengkungan yang dibuat batu marmer. Di samping menara juga ada
ruang yang memiliki empat pintu tertutup. Ruang ini digunakan tempat
tidur oleh dua muadzin setiap malam. Di atas ruang terdapat tiga wadah
minyak yang terbuat dari emas dan dua wadah lainnya terbuat dari perak
dan daun tumbuhan lili.
Secara keseluruhan, para petugas masjid berjumlah enam puluh orang.
Dan mereka dipimpin oleh satu orang yang mengawasi kerja mereka (
ar-Raudh al-Mi’thar fi Khabar al-Aqthar, 1/456-457). Keterangan yang hamper sama juga diberikan oleh Ibnu al-Wardi dalam kitabnya
Kharidhah al-Aja’ib wa Faridah al-Ghara’ib.
Halaman Masjid Cordoba dipenuhi dengan tanaman jeruk dan delima agar
buah-buahnya dapat dimakan orang-orang yang lapar dan para musafir yang
datang ke kota Cordoba.
Namun, hal yang menyedihkan dan membuat air mata berlinang, masjid
yang megah ini telah diubah menjadi katedral sejak jatuhnya Andalusia
dari tangan kaum muslimin. Masjid ini kemudian berada di bawah kontrol
gereja, walaupun namanya tetap diabadikan. Menaranya yang tinggi
menjulang dan megah telah berubah menjadi tempat lonceng kebaktian
gereja untuk menyembunyikan karakter Islamnya. Adapun dinding-dindingnya
masih dipenuhi dengan ukiran ayat-ayat Alquran yang mencitrakan daya
artistik yang tinggi. Masjid ini sekarang menjadi salah satu bagian dari
tempat sejarah yang paling masyhur di dunia.
Sumber : http://kisahmuslim.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar