quotes

Be patient. Be hopeful. No matter how dark the night is, daybreak will follow..

( Sabar. Jadilah harapan. Tidak peduli seberapa gelap malam adalah, fajar akan mengikuti.. )

- Mufti Ismail Menk

Jumat, 30 Januari 2015

Seni baca Al-Qur'an

Assalamu'alaikum semua :)
Islam memang agama yang sangat indah. Satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Swt. Islam mempunyai banyak kesenian. Termasuk juga dalam membaca kitab suci Al-Qur'an.
Islam mempunyai banyak kesenian dalam membaca kitab suci Al-Qur'an. Dengan itu, bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang sangat indah akan terdengar semakin indah dan menyejukkan hati...

Berikut adalah info-info mengenai seni baca Al-Qur'an. Semoga bermanfaat :)

 
1. Qira’ah :

Asalnya, kata ini berarti menyatukan (jama’a) huruf atau kalimat dengan selainnya dalam suatu bacaan.
Derivat (bentuk turunan) kata dasar ini memiliki makna-makna diantaranya:
• tafahhama (berusaha memahami),
• daarasa (terus mempelajari),
• tafaqqaha (berupaya mengerti secara mendalam), dan
• hafizha (menghafal) karena menghafal juga berarti jama'a (mengumpulkan) dan dhamma (menyatukan).
[Lihat: Mu'jam Mufradat Alfazhil Qur'an hal. 413-414; dan Lisanul 'Arab I/128-133.]

Tentu saja, jika aspek-aspek makna kata ini dirangkai maka akan terlihat jelas bahwa tujuan penyatuan berbagai huruf dan kalimat adalah untuk memahami serta mengungkap makna, sehingga akan terlahir pemahaman, pengertian dan pelajaran. Adapun hafalan (tahfizh) merupakan satu tahap pengumpulan ide dan kaidah, untuk kemudian secara intelektual diproses lewat dirasah, tafaqquh dan tafahhum. Oleh karena itu, dalam penggunaan kontemporer, kata qira’ah ini diderivasi menjadi istiqra' yang berarti eksplorasi, investigasi, analisa, penelitian dan pengujian.

Dalam sebuah hadits tentang syarat imam shalat disebutkan kata aqra’uhum li kitabillah. [Lihat: Shahih Bukhari I/245-246 dan Shahih Muslim I/465 hadits no. 673]

Para ulama' memaknai kata ini dengan:
• aktsaruhum hifzhan (yang memiliki hafalan terbanyak),
• afqahuhum li kitabillah (yang paling faqih terhadap kitab Allah),
• aktsaru qira'atan (yang paling banyak membaca Al-Qur’an),
• atau atqanu wa ahfazhu lil-Qur'an (yang lebih menguasai dan hafal Al-Qur'an).
Sebuah hadits lain yang bersumber dari 'Amr bin Salamah menggunakan kalimat “aktsaruhum qur'anan” (yang terbanyak hafalan/bacaan Qur'annya), sebagaimana disitir oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juz 2 hal. 186.

Dengan demikian, kata qira'ah lebih menekankan aspek intelektual dari membaca. Dalam bahasa Inggris, terjemahan yang tepat adalah "to read"(membaca, yakni memahami konten atau isi bacaan).
Arti asal kata ini menunjukkan bahwa kata iqra' yang diterjemahkan dengan "bacalah!", tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai obyek baca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus, Anda dapat menemukan beraneka ragam arti kata tersebut, antara lain: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang kesemuanya bermuara pada arti "menghimpun". Selain itu, kata qira'ah, berikut bentuk-bentuk yang seakar dengannya, dalam Al-Qur'an dipakai untuk mengungkapkan aktifitas membaca yang umum, mencakup teks apa saja.

Dengan kata lain, kata ini mencirikan sebuah aktifitas intelektual yang terus-menerus, mendalam, dan intensif. Meskipun tetap bermakna membaca atau melafalkan huruf-huruf sehingga tercipta suatu makna, namun titik tekannya bukan pada membaca bersuara.

Fokus qira'ah adalah meraih makna atau pengertian dari apa yang dibaca tersebut. Jika dikaitkan dengan Al-Qur'an, yang mana nama kitab suci ini sendiri juga berasal dari kata qara-a (membaca), maka membaca disini harus disertai tadabbur, tafakkur, dan tadzakkur. Tidak disebut qira'ah jika hanya menekankan pelafalan lisan dan mengeraskan suara. Qira'ah adalah aktifitas yang sistematis, terstruktur, disengaja, sadar dan memiliki tujuan jelas.

2. Tartil

Arti dasar tartil adalah sesuatu yang terpadu (ittisaq) dan tersistem(intizham) secara konsisten (istiqamah), yakni melepaskan kata-kata dari mulut secara baik, teratur, dan konsisten. Titik tekannya ada pada pengucapan secara lisan,atau pembacaan verbal dan bersuara. Dalam Bahasa Inggris, padanan tepatnya adalah "to recite" (mengucapkan, melafalkan dengan lisan). Tepatnya, slow recitation, membaca secara dengan bersuara secara perlahan-lahan.

Secara teknis, tartil berkaitan erat dengan penerapan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil-Qur'an karya Imam An-Nawawi, hal. 45-46 disebutkan bahwa para ulama' telah bersepakat tentang dianjurkannya tartil (membaca perlahan-lahan sesuai kaidah tajwid) karena Allah berfirman,"wa rattilil Qur'aana tartiila".

Ada sebuah hadits bersumber dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa beliau menjelaskan sifat bacaan Al-Qur'an Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yakni qira'ah muffassirah (bacaan disertai menafsirkan), harfan harfan (huruf demi huruf). (Hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasai. Menurut At-Tirmidzi, hadits ini hasan-shahih).

Para ulama' menyatakan, bahwa tartil dianjurkan untuk proses tadabbur. Mereka juga mengatakan bahwa tartil sangat dianjurkan terutama bagi orang-orang non-Arab ('ajam), yang tidak memahami maknanya, karena hal lebih mendekatkan kepada sikap pengagungan serta penghormatan terhadap Al-Qur'an, serta lebih kuat pengaruhnya ke hati.

Oleh karenanya, dalam surat Al-Muzzammil, tartil adalah membaca Al-Qur'an secara bersuara, perlahan dan dengan menerapkan hukum-hukum bacaan secara tepat. Secara khusus, aktifitas tartil ini dilakukan dalam shalat dan di malam hari, yakni qiyamul-lail. Dari sini, diharapkan lahir kesan ke dalam jiwa, sebagaimana dijelaskan dalam rangkaian ayat-ayat Al-Muzzammil itu sendiri. 

Wallahu A’lam :)
Wassalammu'alaikum.

Sumber : https://id-id.facebook.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar